Pilar Banten
  • September 20, 2020
  • Last Update September 17, 2020 1:16 pm
  • Indonesia
Miris! Warga Serang Tak Dapat Bantuan COVID-19 Saat Putrinya Lumpuh

Miris! Warga Serang Tak Dapat Bantuan COVID-19 Saat Putrinya Lumpuh

Serang, – Pemerintah telah menganggarkan bantuan jaring pengaman sosial (JPS) terhadap masyarakat terdampak pandemik corona atau COVID-19. Namun bagi keluarga Maiyah (30) dan Herman Felani (35) yang memiliki putri Noviyanti (11) dalam kondisi lumpuh sejak usia 4 bulan, tidak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.

Maiyah bercerita bahwa suaminya bekerja sebagai petugas keamanan di daerah Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten. Gajinya hanya Rp 3 juta perbulan yang digunakan untuk memenuhi kehidupan suami, istri, dan tiga anaknya. Saat pandemik COVID-19 ini, keluarga tersebut mengaku belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, baik Pemkab Serang maupun Pemprov Banten.

“Enggak ada bantuan (dari pemerintah), ada geh tahun 2012, dapet bantuan Rp 2 juta, katanya setahun satu kali, cuma sekali itu dapat bantuannya. Belum ada yang ngasih bantuan, PKH, Jamsosratu, enggak ada bantuan, baru ini dapat bantuan,” kata Maiyah, ditemui dirumahnya, Sabtu (9/5).

Putri pertamanya, Noviyanti (11) menderita kelumpuhan sejak usianya 4 bulan. Sang istri bercerita bahwa putrinya ketika berusia empat bulan mengalami kejang-kejang dan sempat dirawat selama empat hari di RSUD Serang. Usai itu, anaknya menjadi lumpuh hingga kini.

Rumahnya yang berlokasi di RT 04, RW 01, Kampung Kramat Tegal, Desa Kramatwatu, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten masih menumpang di tanah milik negara. Bangunannya pun seadanya, lantainya masih dari semen. Sedangkan dindingnya dari triplek yang di cat, atap rumahnya dari asbes.

“Tanahnya punya negara, cuma ngebangun materialnya aja. Kalau digusur enggak tahu tinggal dimana lagi, kalau dulu ngontrak,” katanya.

Jangankan untuk biaya pengobatan puterinya, untuk makan sehari-hari, Maiyah terpaksa berhutang dulu ke warung. Kemudian saat suaminya gajian, maka dibayar hutang tersebut. Namun pendapatannya harus dibagi untuk ongkos kerja sang suami yang jauh dari rumah.

“Untuk makan ngambil dan kebutuhan sehari-hari ngambil dulu di warung, nanti gajian baru bayar,” katanya.(Anwar/Teguh)

administrator

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: