Pilar Banten
  • July 11, 2020
  • Last Update Jul 9, 2020 12:40 pm
  • Indonesia
Kasus COVID-19 Melonjak di Banten, Antrean Test Swab Membludak di Labkesda

Kasus COVID-19 Melonjak di Banten, Antrean Test Swab Membludak di Labkesda

Serang, – Kasus positif virus corona atau COVID-19 di Banten mengalami lonjakan kasus semenjak adanya kebijakan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jabodetabek.

Pemerintah Provinsi Banten telah menunjuk Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Banten untuk melayani pengujian COVID-19 berbasis reaksi rantai polimerase (PCR) dari rumah sakit rujukan COVID-19 se Banten.

Plt Kepala Labkesda Banten Ariani Sugiarti mengatakan, akibat lonjakan kasus tersebut mengakibatkan terjadinya antrean test swab membludak di Labkesda Provinsi Banten. Saat ini, kata Ariani, ada sebanyak 800 sampel test swab mengantri di Labkesda Banten.

“Bahkan kalau rumah sakit kabupaten (Serang) itu sudah ditutup dulu, buka tutup sistemnya karena kalau terus-terusan nanti terlalu banyak antriannya dulu nanti rusak, takut rusak, tidak akurat. Jadi gantian yang tutup siapa dulu seperti itu,” kata Ariani saat dikonfirmasi, Rabu (17/6).

Provinsi Banten memiliki lima laboratorium rujukan COVID-19 yang terdiri atas Labkesda Banten di Kota Seeang, Laboratorium RSUD Kabupaten Tangerang, Laboratorium RS Siloam Lippo Village Karawaci di Kabupaten Tangerang, Laboratorium Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah di Kota Tangerang Selatan dan Laboatorium RS Krakatau Medika di Kota Cilegon.

Kemudian, untuk saat ini di Provinsi Banten terdapat enam RS rujukan COVID-19. Itu terdiri atas RSUD Drajat Prawiranegara Kabupaten Serang, RSUD Kabupaten Tangerang, RSUD Balaraja, RSUD Kota Tangerang, RS Siloam Kepala Dua dan RSU Banten sebagai RS Pusat Rujukan COVID-19.

“Sebenarnya bukan hanya Labkesda Provinsi Banten saja yang punya (RT- PCR), ada juga yang untuk rujukan adalah laboratorium RS kabupaten Tangerang, kemudian sekarang laboratorium FK UIN Tangsel. Tapi ada juga yang berbayar. Jadi sebenarnya banyak. Hanya saja kemampuannya sedikit-sedikit, karena PCR itu mahal. Harga reagennya saja mahal,” katanya.

Berdasarkan anjuran World Health Organization (WHO), Disampaikan Ariani, Pemerintah Daerah (Pemda) diamantkan melakukan pemeriksaan swab sebanyak-banyaknya minimal sebanyak satu persen dari jumlah penduduk di daerah tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat penularan virus yang berasal dari negeri bambu tersebut.

“Kalau di Provinsi Banten jumlah penduduk 12 jutaan, satu persennya berarti minila 120 ribu orang,” katanya.

Berdasarkan data Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Banten hingga pukul 17:00 WIB, tercatat ada sebanyak 1.160 kasus positif corona di Banten. Diantara, sebanyak 424 orang masih dirawat, sebanyak 652 orang dan sebanyak 84 meninggal dunia.(Anwar/Teguh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: