Jaga Jarak Aman, Karena Virus Mudah Terbawa Udara

Jaga Jarak Aman, Karena Virus Mudah Terbawa Udara

KOTA SERANG, PILARBANTEN.COM – Ukurannya yang sangat kecil dan ringan, membuat virus mudah terbawa angin di udara. Ketika terbawa angin itu, virus tidak lantas mati, ia tetap hidup dalam waktu beberapa saat. Sifat inilah yang kemudian membuat virus mudah menyebar ke siapa saja, termasuk Virus Corona atau Covid-19.

Penyebaran virus lewat udara ini bisa melalui bersin. Ketika seseorang bersin, batuk ataupun berbicara, ia mengeluarkan virus bersamaan dengan droplet. Sehingga orang yang berdekatan jaraknya kemungkinan besar akan tertular, karena virus dan droplet yang dikeluarkan bisa saja menempel di muka atau dimanapun.

“Ukuran virus ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, harus menggunakan alat khusus. Sehingga penyebarannya juga kita tidak bisa prediksi, karena begitu cepat. Dalam beberapa waktu, hitungannya bisa persekiandetik, tergantung pada jarak dan tekanan tiupan saat bersin,” ujar mantan Wakil Direktur RSUD Banten Drajat Ahmad Putra saat dikonfirmasi, Rabu (8/4/2020).

Untuk itu, hendaknya seseorang yang akan bersin lebih baik menutup mulutnya atau setidaknya menunduk. Himbauan jaga jarak aman 1 meter juga salah. Sebab tekanan lemparan atau tiupan droplet saat batuk atau bersin, bisa mencapai jarak 2 meter atau bahkan lebih. Untuk itu, sebaiknya jaga jarak setidaknya minimal 2 meter, lebih jauh lebih bagus.

“Jadi saya sangat meyakini dengan logika bahwa penularan Covid-19 bisa lewat udara dalam jarak tertentu. Buktinya penularan virus ini demikian cepat di beberapa negara dalam kondisi udara yg berbeda-beda sekalipun. Semakin rendah suhu udara, semakin bertahan virusnya,” jelasnya.

Untuk itu, lanjutnya, usahakan jangan keluar rumah kalau tidak sangat terpaksa. Sebab, ketika keluar rumah, maka resiko ancaman untuk terpapar bukan sesuatu yang tidak mungkin atau mustahil.

Saya menganjurkan untuk semua oranh baik yang sakit atau sehat, wajib memakai masker. Himbauan bagi yang sehat tidak usah Makai masker adalah salah. Apalagi alasannya karena stok masker terbatas. Karena urusan stok adalah hal yang berbeda dengan antisipasi penularan.

“Urusan stok masker yang terbatas adalah kewajiban Pemerintah untuk mencari solusi semaksimal mungkin bagaimana caranya agar stok masker relatif cukup dan tidak menjadi masalah.

Kalau hanya untuk membuat masker, saya rasa pemerintah juga bisa menangani. Sehingga tidak terjadi kelangkaan dan membatasi seseorang untuk memakai masker, karena itu sama saja dengan memberi kemungkinan orang untuk lebih mudah memungkinkan tertular,” tuturnya.

Belakangan, tambah Drajat, Pemerintah dan juga WHO akhirnya mewajibkan juga kepada seseorang unuk memakai masker saat keluar rumah atau saat berinteraksi dengan orang lain di dalam rumah sekalipun.

“Untuk saat ini bersikap parno adalah hal yg sangat wajar, malah lebih baik mengantisipasi. Mengantisipasi semua barang apapun yang kita terima dari luar pastikan bersih. Lap dengan tissu anti septik atau semprot dengan anti septik kemasan. Panaskan kembali semua makanan yg kita beli dari luar,” tutupnya. (Rey/Al)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *