Waspada Diare Berat pada Bayi, Dinkes Banten Beri Pemahaman Gejala dan Pencegahan

oleh -2 Dilihat
oleh

SERANG, Pilarbanten.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten memberi atensi terkait diare berat pada bayi yang berpotensi berujung pada kematian.

Berdasarkan data WHO dan UNICEF, tercatat ada 1,7 miliar kasus diare pada anak dan 525.000 balita meninggal karena diare diseluruh dunia setiap tahun.

Sementara data di Indonesia, riskesdas pada 2018 prevalensi diare pada balita 12,3 persen. Diare menyumbang kematian terbesar nomor dua pada anak usia 29 hari sampai 11 bulan atau 9,8 persen pada 2020.

Kepala Dinkes Banten, Ati Pramudji Hastuti mengatakan, diare adalah suatu kondisi bayi buang air besar yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (pada umumnya 3 kali atau lebih) perhari dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 14 hari.

Menurutnya, penyebab terbesar dari diare rotavirus. Namun secara klinis diakibatkan infeksi (bakteri, virus atau investasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan, dan imunodefisiensi.
“Diare ditularkan secara fecal oral, contohnya melalui makanan dan minuman serta benda yang tercemar atau terkontaminas,” katanya.

Ati menjabarkan, ada empat faktor risiko diare pada balita. Di antaranya, tidak mendapatkan ASI ekslusif, pemberian MPASI yang tidak tepat kapan, apa dan bagaimana MPASI diberikan.

Kemudian, tidak menerapkan kebiasaan PHBS, gizi buruk, defisiensi imun, tidak mendapatkan imunisasi campak dan rotavirus.

Namun hal itu dapat dicegah dengan cara memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dan teruskan sampai 2 tahun. Berikan makanan pendamping ASI
sesuai umur anak.

Kemudian, gunakan air bersih yang cukup. Memberikan air minum yang sudah direbus sampai mendidih, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir terutama sebelum makan, sesudah buang air besar, sesudah mencebok anak, sebelum menyiapkan makanan dan sebelum menyusui.

Lalu buang air besar dan tinja anak di jamban. Berikan imunisasi Rotavirus lengkap sampai usia 6 bulan.

“Berikan imunisasi yang mengandung antigen campak (Campak Rubela, MMR) sesuai jadwal,” jelasnya.

Selain itu, perlu adanya pemberian imunisasi rotavirus (RV) untuk mencegah diare berat pada bayi yang disebabkan oleh Rotavirus.
Adapun caranya, imunisasi RV diberikan secara oral sebanyak 0,5 ml (5 tetes) per dosis. Diberikan sebanyak 3 dosis dengan interval 4 minggu antar dosis.

Selanjutnya, imunisasi polio oral diberikan terlebih dahulu kemudian diikuti dengan pemberian imunisasi RV dan dilanjutkan dengan imunisasi suntik.
“Yang mendapat imunitas 2 bulan dosis pertama, 3 bulan dosis kedua, 4 bulan dosis ketiga,” ungkapnya.

Menurut Ati, pelayanan imunisasi RV dapat diperoleh di Posyandu serta fasyankes yang melayani imunisasi rutin lainnya, seperti Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Rumah Sakit pemerintah dan swasta, klinik, praktek dokter mandiri, praktek bidan mandiri dan pos layanan imunisasi lainnya.

Pelaksanaan imunisasi Rotavirus mulai dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2023. Sementara pelaksanaan imunisasi HPV di 38 Provinsi akan mulai dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2023.

Apabila pemberian imunisasi Rotavirus terlewat dari jadwal yang seharusnya dapat dilengkapi hingga usia 6 bulan.

“Jika bayi muntah atau mengeluarkan dosis yang baru saja diberikan maka, tidak perlu diberikan ulang,” terangnya.

Ia menerangkan, pemberian imunisasi RV dengan imunisasi lain pada saat bersamaan aman diberikan pada bayi.

Hal ini lebih efisien untuk meningkatkan dan melindungi anak dari diare berat yang dapat menyebabkan kematian, serta meningkatkan cakupan pemberian vaksin.

Adapun reaksinya, imunisasi RV yang aman dan efektif, secara umum vaksin tidak menimbulkan reaksi yang serius sesudah pemberian imunisasi.
Reaksi umum yang mungkin terjadi berupa demam, muntah, BAB cair (diare) dan rewel dapat terjadi sebagai bagian dari respon imun terhadap vaksin RV.

“Jika terjadi reaksi sesudah imunisasi RV, maka orang tua perlu segera melaporkan ke petugas Posyandu atau Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut,” tutupnya.

Ati berharap semua keluarga dan masyarakat mendukung program imunisasi HPV. Mengingat program ini dimaksudkan untuk mendukung tumbuh kembang anak dan menciptakan generasi yang sehat, kuat dan cerdas. (adv)