Vaksinasi Anak di Kota Serang Masih Rendah, Ini Penyebabnya

oleh -8 Dilihat
oleh

Serang, – Selain vaksinasi lansia yang masih rendah, vaksinasi anak di Kota Serang juga terhitung masih rendah. Apalagi jika dibandingkan dengan daerah lain.

Terhitung sampai saat ini, vaksinasi terhadap anak-anak di Kota Serang Baru mencapai 1.067 sasaran, dari total yang ditargetkan mencapai 70.000 sasaran.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Ahmad Hasanuddin mengatakan, rendahnya capaian vaksinasi anak itu salah satunya disebabkan oleh pelaksanaannya yang terlambat.

“Kita baru mulai vaksinasi anak itu sekitar awal tahun ini,” katanya, Kamis (10/2/2022).

Hal itu, lanjut Hasan, dikarenakan pihaknya baru bisa menyelesaikan bulan imunisasi anak sekolah pada bulan Desember 2021 kemarin. Sehingga tidak bisa langsung dilanjutkan dengan vaksinasi.

“Ada jeda waktu yang harus ditempuh dulu setelah imunisasi itu,” ujarnya.

Hasan melanjutkan, berdasarkan aturan dari Kemenkes, waktu tunggu itu selama dua minggu, baru kemudian bisa dilakukan vaksinasi.

Berbeda dengan rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang merekomendasikan untuk menunggu selama satu bulan.

“Karena ini sasarannya anak-anak, kita ambil aman aja ngambil yang satu bulan,” ujarnya.

Selain itu, tambah Hasan, hambatan lainnya karena faktor izin orang tua. Pelaksanaan vaksinasi anak ini kan menggunakan syarat NIK yang ada di KK. Nah, karena orang tuanya tidak mengizinkan, sehingga anak-anak tidak bisa membawa persyaratan itu.

“Kita tidak bisa memaksakan kalau orang tua siswa tidak mengizinkan,” ucapnya.

Diakui Hasan, sampai saat ini sudah banyak anak sekolah yang mulai terpapar virus Covid-19. Berdasarkan data yang ada, secara umum di Kota Serang ada tambahan sebanyak 272 kasus, 22 diantaranya dirawat di RS karena mengalami gejala sedang dan berat.

“Sementara yang lainnya melakukan Isoman,” ujarnya.

Dari total kasus itu, menurut Hasan, pihaknya belum mengetahui apakah varian omicron atau Covid-19 biasa. Sebab hal itu harus melalui uji laboratorium dulu di Balitbang Kemenkes di Jakarta.

“Tapi kalau melihat indikasinya itu mendekati varian omicron,” tutupnya.(loet)