Rp1,6 M Uang Korupsi Masker Untuk Bangun Rumah Mewah Hingga Bagi-bagi

oleh -3 Dilihat
oleh

Serang, – Uang hasil korupsi pengadaan masker di Banten senilai Rp1,6 miliar digunakan untuk membangun rumah dan dibagi-bagi ke sejumlah pihak oleh Agus Suryadinata.

Agus mengatakan, uang tersebut dari hasil keuntungan masker KN93 ke Dinas Kesehatan Provinsi Banten. Diketahui, terdakwa membeli masker dari PT Berkah mandiri Manunggal (BMM) Rp88 ribu per buah dan menjual senilai Rp220 ke Dinkes Banten.

Dari Rp3,3 miliar anggaran dalam proyek pengadaan dirinya mengaku mendapat keuntungan hingga Rp1,6 miliar. Rincian penggunaannya, Rp200 juta diberikan ke Wahyudin selaku Dirut PT RAM dan Rp600 juta untuk saudara Heri sebagai uang pengganti down payment (DP) pembelian ke PT BMM sekaligus fee.

Sementara sisanya senilai Rp860 juta digunakan Agus untuk membangun rumah mewah di Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

“Rp860 juta semuanya untuk (membangun) rumah itu. (Bener gak ada yang lain-lain? (tanya jaksa) Enggak,” katanya.

Dia mengaku tidak memberikan uang sepeser pun untuk terdakwa Lia Susanti selaku Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Banten dan juga sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Demikian pun untuk Kepala Dinkes Banten Ati Pramudji Hastuti.

“Buat bu Lia sepeser pun gak ada. Siapa tahu minta? (Tanya jaksa) Tidak ada. Ke kepala dinas ? (tanya jaksa) Gak ada,” katanya.

Bahkan, Agus mengaku, tidak pernah bertemu dan komunikasi langsung dengan Lia selama proses pengajuan pengadaan hingga negosiasi harga masker. Dia hanya berkomunikasi dengan Khania selaku tim pendukung PPK.

“Ketemu bu Lia saat pengiriman barang pertama tapi tidak ngobrol,” tuturnya.

Namun, Agus bungkap saat ditanya majelis hakim terkait darimana dirinya mendapatkan informasi bahwa Dinkes Banten sedang membutuhkan masker. “Dari Temen cuma saya lupa (nama) temennya,” katanya. Atas jabwaban terdakwa, hakim pun sempat menegur terdakwa.” kamu jangan coba tutup-tutupi bapak sudah disumpah loh,” kata majelis.

Agus tidak membantah bahwa saat komunikasi awal melalui pesan whatsapp dengan Khania dirinya mengaku mendapat arahan Kepala Dinkes Banten. Tapi hal tersebut merupakan inisiatifnya sendiri.

“Arahan (sebetulnya) tidak ada. Betul- betul saya aja improvisasi biar bisa ketemu aja,” katanya.

Dijelaskan Agus, setelah berhasil tersambung dengan Khania dirinya pun disambut baik. Sebab, Dinkes betul-betul sedang butuh masker untuk nakes.

“Tapi awalnya bu Khania tidak percaya kepada saya karena sebelumnya pernah ada yang datamg tapi barangnya tidak ada,” katanya.(war)