Pernah Jadi Lumbung Padi Nasional, Kini NTP  Banten Anjlok

Pernah Jadi Lumbung Padi Nasional, Kini NTP Banten Anjlok

Serang, – Provinsi Banten setidaknya pernah menjadi daerah sebagai lumbung padi nasional untuk wilayah pulau Jawa pada awal tahun 2021 kemarin.

Namun memasuki triwulan kedua suplay padi di Banten justru mengalami penurunan. Tidak hanya itu, Nilai Tukar Petani (NTP) juga pada saat itu terjun bebas, sehingga kemudian harapan para petani bisa sejahtera itu kembali redup.

Ditambah lagi sebagian besar petani yang ada di Provinsi Banten merupakan petani penggarap, bukan pemilik sawah. Sehingga para petani hanya mengandalkan dari harga jual gabah di pasaran.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten saat diskusi kamisan yang diselenggarakan oleh Pokja Wartawan Provinsi Banten di Plaza Aspirasi, KP3B, Curug, Kota Serang, Kamis (9/9/2021).

Dalam diskusi itu Agus mengungkapkan persoalan yang ada di tingkat petani sangat kompleks dan butuh peran aktif semua unsur baik pemerintah daerah, sektor industri, peneliti serta masyarakat Banten secara umum.

“Karena mayoritas petani di kita adalah penggarap, maka yang dibutuhkan utama itu adalah peningkatan SDM-nya, para peneliti bisa berperan aktif di sini,” ujarnya.

Kalau kualitas SDM-nya sudah meningkat, akan berdampak positif terhadap hasil produksi gabah di tingkat petani, baik itu dari sisi kualitas maupun kuantitasnya.

“Kalau ini sudah terbangun, dalam satu tahun para petani kita bisa sampai tiga kali panen,” katanya.

Setelah semua persoalan dasar itu terurai, pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab untuk menjaga stabilitas harga gabah dari petani. Itu bisa dilakukan dengan cara membentuk BUMD yang terfokus pada persoalan pertanian.

“Itu sudah dilakukan oleh Pemprov Banten dengan berdirinya BUMD Agribisnis yang siap menampung hasil pertanian,” ungkapnya.

Dijelaskan Agus, untuk mengentaskan persoalan pertanian di Banten tidak bisa dengan cara lain pendekatannya kecuali dengan pendekatan pasar. “Sejauh mana daya sentuh BUMD ini terhadap hasil pertanian di Banten,” imbuhnya.

Selain itu, menurut analisa Agus, ada empat pilar untuk mengentaskan peraoalan pertanian di Banten, pertama petani kita harus berdaya saing tinggi, lalu konsep yang diberikan pemerintah daerah harus berkerakyatan, harus ada dukungan pemerintah darah serta harus berkelanjutan.

“Apalagi saat ini saja kwalitas beras hasil produksi kita sudah terbilang bagus dan bisa bersaing dengan daerah lain,” pungkasnya.(loet)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: