Pilar Banten
Nenek Rusmini Hidup Sebatang Kara Di Rumah Reyot Tak Dapat Bantuan

Nenek Rusmini Hidup Sebatang Kara Di Rumah Reyot Tak Dapat Bantuan

Serang, – Nenek Rusmini yang lahir tahun 1949 hidup sebatang kara di rumah yang yang sudah reyot dan lapuk. Rumahnya itu berada di Kampung Teras Tayib, RT 06 RW 03, Desa Kamaruton, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang, Banten. Lantai rumah nya dari semen yang sudah berlubang di banyak titik.

Kemudian temboknya, jangan bayangkan dalam kondisi yang mentereng dengan cat yang mengkilap. Genteng rumahnya sudah banyak yang berlubang dan jika hujan turun maka bagian dalam rumahnya akan bocor kebanjiran.

Meteran listrik pun tak ada, kabel panjang yang di colokkan dari rumah warga lah yang menerangi rumah Nenek Rusmini saat malam tiba. Memasak pun masih menggunakan tungku yang bahan bakarnya dari kayu bekas.

“Listriknya dapat ikut ke ponakan, ikut juga eggak pernah bayar. Iya tuh, acak-acakan rumahnya juga,” kata Nenek Rusmini yang hanya bisa berbicara bahasa Jawa Serang (Jaseng), saat ditemui di kediamannya, Selasa (12/5).

Di usia senjanya, sang nenek belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Jaminan Sosial Rakyat Banten Bersatu (Jamsos Ratu), Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) hingga Jaring Pengaman Sosial (JPS) covid-19 hingga BPJS Kesehatan pun tak dia miliki.

“Enggak dapat bantuan, cuma dapet bantuan beras doang dari Pak Camat. Enggak pernah dikasih apa-apa. Saya minta tolong di bantuin, tapi enggak bisa katanya. KTP, KK juga ada,” terangnya.

Untuk menyambung hidup dan bisa makan, Nenek Rusmini mencari sisa gabah atau butiran padi di sawah ketika musim panen datang. Terkadang, dia mencari ikan disawah dan sungai untuk dijual kembali. Jika tak laku, gabah dan ikan kecil itu diolah untuk makan sehari-hari.

Jika beruntung, ada saja warga yang perduli dengan Nenek Rusmi dengan membeli gabah dan ikan kecil yang dia cari.

“Makannya dikasih, kadang ada yang ngasih, kadang dari bekas padi di sawah, (gabah nyari diswah) paling dapat setengah ember. Cari ikan kecil-kecil di kali (sungai) untuk dijual lagi. Ada aja (yang beli) kalau kasian mah,” ujarnya.

Salah satu warga setempat yang berupaya membantu Nenek Rusmini mengaku sudah berusaha agar sang nenek bisa mendapatkan bantuan dengan mengumpulkan KTP dan KK dalam pendataan bantuan. Nyatanya, hingga kini tak pernah datang bantuan itu ke rumah sang nenek, yang masaknya masih menggunakan kayu bakar.

“Iya enggak pernah dapat, paling sodaqoh itu (dapatnya dari warga), (bantuan dari) pemerintah mah enggak pernah dapat. Bantuan corona ini enggak dapat,” kata warga setempat, Marfua’ah.(Anwar/Teguh)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: