Pilar Banten
Kisah Tenaga Kesehatan RSUD Banten Bekerja di Tengah Minimnya APD

Kisah Tenaga Kesehatan RSUD Banten Bekerja di Tengah Minimnya APD

Serang, – Tenaga kesehatan merupakan garda terdelan dalam memerangi pandemik virus corona atau COVID-19. Mereka berhadapan langsung dengan pasien yang terpapar virus corona.

Meski di tengah keterbatasan alat dan fasilitas kesehatan, para petugas medis amat rawan terpapar virus corona.

Seperti para tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten, para pejuang di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Banten ini merawat pasien corona di tengah minimnya alat pelindung diri (APD). Dimana mereka harus melakukan sterilisasi kacamata google medis dan masker N95 sendiri di rumah masing-masing setelah melakukan pelayanan.

Kacamata google medis dan masker N95 baru diganti tiga hari sekai padahal dalam standar operasional yang ada hanya digunakan satu kali. Hal ini terjadi lantaran mulai minimnya ketersedian alat tersebut di rumah sakit.

“Iya jadi katanya ketersediaan alat sterilisasi di RS udah pada rusak jadinya kita disuruh dicuci di rumah dan di sterilin sendiri padahal kan itu resiko banget. Harusnya kita kerumah gak bawa virus eh ini suruh sterilin sendiri. Belum lagi masker N95 yang di rebus sendiri di rumah,” kata AR salah satu tenaga kesahatan di RSUD Banten saat dikonfirmasi, Rabu (2/9/2020).

Seharusnya menurutnya, penggunaan APD di rungan zona merah penanganan pasien virus corona hanya boleh digunakan satu kali karena virus rawan menempel di kostum APD tersebut.

Ditengah minimnya APD, pasien corona yang dirawat di RSUD Banten terus bertambah. Hingga saat ini ada sebanyak 22 pasien di zona merah dan ada sebanyak 15 pasien di zona kuning.

“Masker N95 dipake tiga kali kalau udah tiga kali pake ya ganti itu pun kita harus punya bukti kalau udah tiga kali kalau gak (ada bukti) ya ga bakalan dikasih,”katanya.

Meski para tenaga medis tersebut sudah bertaruh nyawa untuk memerangi virus corona, bentuk perhatian pemerintah kepada mereka dinilai belum maksimal, bahkan insentif dari pemerintah pusat untuk tenaga medis pun tak kunjung cair dari bulan pertama hingga saat ini.

” iya satu lagi kita belum ada kepastian nih buat penjelasan hitungan insentif yang lanjut jadi tim COVID sekarang. Jasa sama uang resiko kita gak ada kepastian. Jadi kaya orang manajemen RS itu lebih mengutamakan yg non COVID dibandingkan sama COVID,”katanya.(Anwar/Teguh)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: