Gara-gara COVID-19, Omset Pedagang Bendera Turun 50 Persen

Gara-gara COVID-19, Omset Pedagang Bendera Turun 50 Persen

Serang – Setiap menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) pedagang bendera mulai ramai disetiap pinggir jalan protokol. Jalan Raya Jenderal Sudirman nomor 30 Ciceri menjadi langganan lapak setiap tahun para pedagang bendera di Kota Serang.

Namun, kondisi perayaan HUT RI ke-75 tahun ini berbeda dengn tahun-tahun sebelumnya dimana perayaan tahun ini digelar ditengah pandemik virus corona atau COVID-19. Kendati demikian mereka tetap berjualan.

Dedi (45) salah satu pedagang bendera yang bisa mangkal di Jenderal Sudirman mengatakan, penjualan bendera dan pernak-pernik HUT RI menurun drastis hingga 50 persen. Hal ini disebabkan lantaran perayaan tahun ini tidak dikemas dengan meriah karena adanya pembatasan aktivitas sosial akibat pandemik COVID-19. Halaman rumah yang biasanya ramai dihiasi dengan pernak-pernik kemerdekaan pun mulai berkurang.

“Ya agak kurang tidak seperti tahun sebelumnya ya gimana masyarakatnya juga beda tidak seperti biasanya. biasanya masang ini aga mengurangin sampe omset cuma 50 persen,” kata Dedi kepada wartawan, Selasa (11/8/2020).

Disampaikan Dedi, faktor lain yang membuat penjualan bendera berkurang karena perlombaan mulai dari tingkat RT hingga pusat mulai dikurangi. Padahal, perlombaan dalam rangka semarak kemerdekaan sudah menjadi kegiatan rutin setiap perayaan HUT RI.

“Omset dapat berapa malah kurang jualan aja kaya gini dulu kan ada lomba-lomba buat asesoris apa sekarang kan gak ada. Sekarang perhari gak nentu paling dapat Rp100 ribu sampai Rp 200 ribu. Kalau tahun sebelumnya minimal Rp500 ribu,” katanya.

Terlebih lanjut Dedi, harga bendera terjadi penurunan, misalnya bendera berukuran kecil yang berukuran satu meter turun Rp5 ribu, tahun sebelumnya bisa mencapai Rp30 ribu hingga Rp35 ribu sekarang hanya dijual Rp25 ribu. Kemudian pernak-pernik atau background gedung yang berukuran besar dengan 10 gelombang hanya dijual Rp200 ribu yang tahun sebelumnya mencapai Rp300 ribu.

“Masyarakatnya mampunya segitu, ya gimana kalau gak dijual gak dapat duit,” katanya.(Agung/Anwar)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: