Pilar Banten
Di Kampung wisata 5 Umah, Selain Berwisata Agro Juga Belajar Seni

Di Kampung wisata 5 Umah, Selain Berwisata Agro Juga Belajar Seni

Kampung Wisata 5 Umah tidak hanya menyajikan konsep wisata yang bernuansa ramah lingkungan atau agro wisata, tetapi juga menyajikan rekreasi yang bernuansa edukasi kesenian.

Edukasi kesenian itu bisa dinikmati oleh pengunjung di sanggar seni Karawitan yang berlokasi di kawasan kampung wisata 5 Umah, Lingkungan Perapatan, Kelurahan Curug, Kecamatan Curug, Kota Serang.

Di sanggar Karawitan ini, setiap pengunjung bisa langsung belajar berbagai jenis alat musik tradisional seperti Degung, Kecapi, Salendro, gong dan berbagai jenis alat musik tradisional lainnya.

Pengelola sekaligus pendiri sanggar seni Karawitan Udi (77) mengatakan, setiap pengunjung yang datang ke sini bisa belajar jenis alat musik apa saja, yang dipandu oleh anak-anak didiknya yang sudah ia ajari sejak nol.

“Pengunjung bisa belajar sepuasnya, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan yakni dari Jumat sampai Minggu,” katanya.

Selain belajar bermain alat musik tradisional, lanjutnya, di sanggar ini juga pengunjung bisa belajar menari dan sinden yang dipandu oleh anak didiknya juga.

“Para Polwan juga pernah belajar menari di sini. Mereka ulet dan cepat menguasai,” katanya.

Udi menjelaskan, sanggar seni Karawitan ini ia dirikan sejak tahun 90-an, ketika ia masih aktif sebagai pengajar di sekolah tingkat dasar (SD).

Kala itu ia memang sudah hobi terhadap alat-alat musik tradisional, kemudian secara otodidak ia belajar sendiri sampai menguasai.

“Karena sebagai pengajar saat itu saya harus serba bisa, untuk pelajaran kesenian anak-anak didik saya kala itu diajarin menari dan belajar alat musik tradisional,” katanya.

Dari situlah kemudian turun temurun ke generasi berikutnya, sampai banyak anak didiknya yang sudah berkeluarga dan meniti karir masing-masing.

“Bahkan anak-anak mereka ada juga yang belajar ke saya saat ini,” ucapnya.

Saat ini, lanjutnya, anak didiknya yang setiap akhir pekan belajar di sanggar nya mencapai 60 orang yang tersebar di Kota Serang dan Pandeglang, dari mulai usia anak-anak sekolah sampai dewasa yang sudah berkeluarga.

“Namun karena sedang Pandemi, untuk sementara saya batasi jumlah yang belajarnya,” ungkapnya.

Udi mengaku dengan adanya konsep kampung wisata edukasi ini, dirinya bisa lebih luas lagi memperkenalkan permainan alay musik tradisional kepada masyarakat. Sebab di area moderenisasi ini, musik-musik daerah serta alat-alat musik tradisional nya sudah hampir ditinggalkan.

“Mereka lebih suka dengan musik-musik pop yang kekinian itu,” harapnya.(loet)

Tinggalkan Balasan