Pilar Banten
Tarif Sekali Pijat Rp500 Ribu di Panti Pijat Yang Digerebeg Ditreskrimum Polda Banten

Tarif Sekali Pijat Rp500 Ribu di Panti Pijat Yang Digerebeg Ditreskrimum Polda Banten

Serang, – Tarif panti pijat plus – plus yang digerebeg Ditreskrimum Polda Banten sebesar Rp300.000 – Rp500.000. Panti pijat mesum di Ruko Citra Raya, Kabupaten Tangerang ini, diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) wanita berusia18-30 tahun.

Kabid Humas Polda Banten AKBP Shinto Silitonga mengatakan, terbongkarnya kasus prostitusi dengan kedok panti pijat ini berawal dari laporan warga. Tim dari Polda Banten kemudian pada 1 Desember 2021 melakukan upaya represif di tempat panti pijat tersebut.

Namun dari hasil penyelidikan TKP di panti pijat di Ruko Citra Raya, Tangerang, polisi menemukan beberapa perempuan yang memberikan jasa therapist, beberapa tamu dan pengelola panti pijat.

Selanjutnya Shinto Silitonga menyampaikan pasca upaya represif, penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap 8 saksi termasuk pengelola panti pijat dan melakukan gelar perkara.

Hasil gelar perkara kami menetapkan 3 orang pengelola sebagai tersangka yaitu AW (35), RW (32) dan TF (25). AW dan RW adalah pasangan suami istri yang memiliki dan mengelola tempat usaha, sedangkan TF adalah karyawan pada tempat usaha tersebut yang berperan mencari tamu dan menyambungkan dengan therapist, serta mendapat komisi dari tiap tamu yang dilayani.

“Motif dari pelaku yaitu mencari keuntungan dari para terapis dengan meminta uang kamar Rp100.000 per jam yang dikenakan dari tarif pelayanan tiap tamu oleh therapist sebesar Rp300.000-Rp500.000,”kata Shinto Silitongakata Shinto Silitonga, Jumat (03/12/2021) Saat Press Conference Didampingi oleh PS. Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Banten Kompol Hj. Herlia Hartarani.

Shinto Silitonga menyampaikan Para therapist diketahui berasal dari luar Provinsi Banten yang beumur relatif 18-30 tahun, “Para therapist berasal dari luar Provinsi Banten, dan dari hasil penangkapan penyidik melakukan penyitaan berupa lembar seprai, kondom dan tisu bekas pakai, buku daftar pelanggan dan data catatan keuangan, serta minyak untuk pijat,”ujar Shinto Silitonga.

Atas perbuatannya Shinto Silitonga mengatakan para tersangka dikenakan Pasal 2 atau Pasal 10 UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, “Atas perbuatannya para pelaku dikenakan Pasal 2 atau Pasal 10 UU No. 21 Tahun 2007 dengan ancaman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara,” jelas Shinto Silitonga.

Terakhir Kabid Humas Polda Banten menegaskan Polda Banten tidak mentolerir terjadinya praktek-praktek pelacuran terselubung di tempat hiburan, akan melakukan tindakan tegas dengan UU TPPO. “Polda Banten akan menindak tegas praktek-praktek pelacuran terselubung di tempat hiburan,”ujar Shinto Silitonga.

Shinto Silitonga mengatakan Polda Banten memotivasi kembali partisipasi masyarakat untuk memainkan peran aktif dalam kontrol sosial. “Jika masyarakat menemukan adanya praktek-praktek pelacuran terselubung di tempat hiburan bisa memberikan informasi kepada pihak kepolisian baik di 110 ataupun pada akun media-media sosial Polda Banten.”tutup Shinto Silitonga. (teguh)

Tinggalkan Balasan