Kisah Yadi, Perawat Naskah Kuno Sejarah Kesultanan Banten

oleh -388 Dilihat
oleh

Serang, – Tak bisa dipungkir Banten pada abad 16 hingga 19 dikenal sebagai salah satu kota perdagangan rempah-rempah di kawasan Asia Tenggara, Banten juga dikenal sebagai salah satu daerah pusat pengetahuan islam di nusantara.

Jejak sejarah Kesultanan Banten itu bisa dilacak melalui catatan manuskrip atau kitab kuno. Namun, sayangnya, karya yang tak ternilai itu banyak yang lenyap dimakan waktu.

Hilangnya naskah-naskah kuno itulah yang memicu Yadi Ahyadi untuk menyelamatkan yang tersisa. Deengan modal seadanya, ia melakukan misi penyelamatan warisan budaya itu dari kepunahan. Sejak 1999 dia mulai menyisir ke kampung-kampung.
    
“Karena tidak dirawatnya oleh masyarakat, sehingga saya gimana caranya berusaha untuk mampu minimal memahami isi informasi dari kitab kuno yang tidak disentuh para pengkaji modern itu,” kata Yadi saat dikonfirmasi, Jumat (27/8/2021).

Dia bercerita, ketertarikan akan merawat kitab kuno itu bermula saat Yadi masih menjadi mahasiswa di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Serang. Dia menemukan manuskrip sejarah Banten di Kawasan Banten Lama.

Baca Juga:  Mulai Dari Pencarian Korban Hingga Pembersihan Puing Reruntuhan, BPBD Banten Bantu Korban Gempa Cianjur

Informasi dalam naskah kuno itu butuh dikupas tapi sayang kitab itu hancur ketika dipegang olehnya. Rusanyak naskah kuno itu lantaran dirinya belum tahu cara memegangnya, disis itu masyarakat pun tidak mengetahui cara merawatnya.

Saat dirawat, kitab kuno itu hanya dikasih minyak wangi-wangain setiap malam jumat dan dibakari kemenyan. Karena puluhan tahun gak pernah dibuka ketika dibuka hancur lebur jadi tanah yang tersisa hanya cover bagian atas.

“Dari situ mulai merasa ini harus ada yang merawat. Harus dilacak jangan sampai manuskrip yang lain ada di masyarakat itu hancur lebur sehingga tidak bisa dimanfaatkan informasinya,” katanya.

Usaha Yadi untuk merawat warisan leluhur itu tak sia-sia, selama 20 tahun misi pelacakan setidaknya sudah 12 manuskrip kuno yang telah dititipkan masyarakat kepada dirinya. Sisanya, masih disimpan di masyarakat.

“Yang di masyarakat gak boleh diapa-apain, disimpen disaya juga gak boleh akhirnya tetap dikontrol saja 3 bulan sekali untuk menjaga keamanan manuskripnya,” katanya.

Baca Juga:  20 Orang Meninggal Dunia Akibat Bencana Alam di Banten

Namun, perjalanan Yadi dalam penyelamatan manuskrip kuno tidak semudah membalikan telapak tangan, banyak tantangan saat dirinya mendatangi masyarakat diantaranya adanya upaya penolakan dari pemegang kitab hingga sulitnya menanamkan kepercayaan terhadap masyarakat bahwa kitab itu aman jika dititip ke tangan dirinya.

“Karena khawatir diambil paksa, mereka khawatir manuskripnya hilang segala macam itu butuh perjuangan hampir 4 sampai 5 tahun untuk melobynya,” katanya.

Bahkan, ada sebagian masyarakat menjadikan manuskrip kunu itu sebagai jimat karena pesan leluhurnya tidak boleh dibuka oleh orang sembarangan dengan mitologi akan terkena kuwalat jika dibuka.

“Kalau bagi saya itu sangat diuntungkan kalau dimitoskan karena walaupun tidak dibaca setidaknya masih terawat dengan baik dan gak hilang,” katanya.

Dari 12 kitab yang dititipkan kepada dirinya, hampir selurunya berisi pengetahuan kaegamaan seperti, fikih, filsafat dan tafsir quran yang tidak familiar di masyarakat karya-karya ulama Banten.

Hal ini membuktikan, bahwa Banten pada abad 18-19 merupakan salah satu daerah pusat pengetahuan islam. “Dibuktikan dengan karya tulis ulama di Banten justru lebih mendominasi,” katanya.

Baca Juga:  Milad XXI Baznas, Wabup Serang Minta Optimalkan Capaian Penerimaan ZIS

Pasca Kesultanan Banten hancur, para ulama ini hijrah ke berbagai daerah di penjuru nusantara sehingga saat itu Banten ditinggalkan oleh para akdemisinya.

“Itu yang saya lihat dan banten mampu mengendalikan pemahaman keagamaan yang diterima masyaryarakat lebih luas terutama di UU kesultanan Banten karena mengadaptasi dari hukum islam digabung dengan hukum adat supaya tidak bentrok,” katanya.

Namun, dia sayangkan, hingga saat ini perhatian pemerintah daerah terhadap warisan budaya itu masih rendah karena menganggap manuskrip kuno itu hanya sebagai nilai budaya bukan nilai pengetahuan.

Sejauh ini pemerintah hanya merawat, monumen fisik seperti masjid Agung dan Menara Banten. Padahal, monuman tersebut bisa hancur sementara, nilai keilmuan akan abadi jika dipelajari dan dikaji.

“Kalau bicara nilai pengetahuan pasti penting untuk dibahas untuk dikaji. Jadi pelajaran masa sekarang,” katanya.(war)