Pilar Banten

Terdakwa Ngaku Pugli Jenazah Korban Tsunami Perintah Atasan

Terdakwa Ngaku Pugli Jenazah Korban Tsunami Perintah Atasan

Serang – Sidang kasus pungli ke keluarga korban tsunami Selat Sunda di Rumah Sakit dr. Dradjat Prawiranegara (RSDP) Serang di Pengadilan Negeri (PN) Serang terungkap bahwa pungli pengambilan jenazah atas instruksi atasan. Hal ini muncul dalam keterangan saksi Encup Suplikah selaku Wakil Direktur Umum dan Keuangan rumah sakit. 

Saat dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Tb. Fathullah selaku petugas forensik, Budiyanto dan Indra Juniar Maulana selalu petugas ambulans, Encup memberi keterangan bahwa seharusnya tak ada pungutan ke korban tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018 lalu. Katanya, ada 30 jenazah tsunami yang masuk melalui bagian forensik rumah sakit RSDP.  

Beberapa hari setelah kejadian tsunami, Encup mengaku melihat media sosial yang ramai adanya pungli oleh bagian forensik terhadap korban bencana sebesar Rp 3,5 juta. Ia kemudian bertemu dengan Fathullah selaku petugas forensik sekitar tanggal 23 Desember 2018. 

“Dari situ saya bertanya ke terdakwa Fathullah soal adanya pungutan liar pengambilan jenazah korban bencana,” kata Encup dalam persidangan di PN Serang yang dipimpim Muhammad Ramdes di Jl. Serang-Pandeglang, Banten, Senin (24/6) kemarin.

Di hadapan majelis, Encup mengatakan pertemuannya dengan terdakwa Fathullah berlangsung hanya 1 menit. Terdakwa mengaku pungli pengambilang jenazah ke keluarga korban tsunami atas instruksi dari seseorang. 

“Saya sempat marah. Dia bilangnya intruksi. Nggak bilang intruksi dari siapa, dia langsung pergi lari” katanya. 

Di persidangan, Encup juga mengatakan bahwa rumah sakit memiliki kerja sama operasi (KSO) dengan CV Naufal Zaidan selaku penyedia ambulans untuk pengambilan jenazah. Ambulans ini adalah yang digunakan untuk pengantaran jenazah tsunami. 

Sementara itu, terdakwa Budiyanto mengatakan bahwa instruksi sebagaimana dikatakan saksi Encup merujuk pada perintah dari atasan bernama Enjar. Enjat adalah pengelola CV Naufal yang melakukan KSO dengan RSDP Serang. 

“Saya dapat perintah, yang digratiskan (pengambilan jenazah tsunami) adalah PNS dari Pak Enjat,” kata terdakwa Budiyanto menanggapi. 

Terdakwa Tb. Fathullah selaku staf RSDP Serang, Budiyanto dan Indra Juniar Maulana selaku karyawan CV Nauval Zaidan didakwa telah melakukan tidak pidana korupsi sebagaimana Pasal 35 ayat 2 UU nomor 46 tahun 2009 tentang Tipikor. Terdakwa telah melakukan pungli ke korban jenazah tsumani sebesar Rp 59,9 juta.(anwar/teguh)

administrator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: