Pilar Banten

MUI Kota Serang Himbau Intensifkan Pengajian Untuk Menangkal Tindakan Kriminal

MUI Kota Serang Himbau Intensifkan Pengajian Untuk Menangkal Tindakan Kriminal

Serang – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang soroti maraknya kasus pembunuhan di Provinsi Banten. Dengan maraknya kasus tersebut, MUI menilai kegiatan keagamaan harus diintensifkan untuk mengantisipasi kejadian serupa.
Ketua MUI Kota Serang KH Mahmudi mengatakan, dengan dalih dan alasan apapun merenggut nyawa orang lain tidak dibenarkan dalam agama. Namun, saat ini justru kasus pembunuhan dengan cara yang sadis semakin marak. Ia memandang, hal itu karena kurangnya nilai keagamaan dalam diri pelaku.
“Memang faktornya kekurangan etika, kekurangan agama, sudah buta agama sehingga terjadi seperti itu,” kata Mahmudi usai pengajian di Masjid Al-Madani Puspemkot Serang, Selasa (10/9/2019).
Untuk mengantisipasinya, ucap dia, tokoh agama, aparat dan pemerintah daerah harus sinergis dalam mensyiarkan nilai-nilai keagamaan. Ia menyatakan siap membantu menyosialisasikan melalui pengajian-pengajian yang diikutinya.
“Saya mengajak kepada seluruh teman-teman MUI di kabupaten/kota dan aparat terkait sinergis melakukan pengajian rutin bersama masyarakat,” ucapnya.
Hal hampir senada dikatakan Sekretaris MUI Kota Serang Amas Tadjuddin. Ia menyampaikan, maraknya kasus pembunuhan yang disertai pemerkosaan akibat minimnya ilmu keagamaan. Sehingga, dengan bebas pelaku melakukan apapun tanpa dipikir kembali.
Penyebabnya, kata dia, bisa dari lingkungan pergaulan yang kurang baik dan banyaknya tayangan yang dikonsumsi berbau pornografi baik berupa gambar, bacaan dan lain sebagainya. “Saya melihat kasus pembunuhan di Baduy misalnya, saya melihat pelaku yang sering menonton film porno,” katanya.
Untuk antisipasinya, pemerintah harus bisa membatasi dan menutup akses untuk bisa mengonsumsi tayangan berbau pornografi. Selain itu, bagi tokoh agama untuk tidak bosan menyampaikan dakwahnya tentang larangan pembunuhan.
“Tokoh agama tidak pernah bosan menyampaikan kebenaran kepada masyarakat bahwa pembunuhan itu atas nama apapun tidak benar, apalagi dengan pemerkosaan,” ujarnya.
Ia sendiri mengaku ngeri membayangkan pembunuhan yang dilakukan secara sadis. Terlebih, setelah korban meninggal pelaku memerkosa korban secara brutal. Hal itu baginya merupakan suatu kegilaan berpikir.
“Saya tidak bisa membayangkan memperkosa orang yang sudah mati, ini kegilaan berpikir. Ini gak boleh terjadi lagi sampai kapanpun,” ucapnya.
Diketahui, beberapa kasus pembunuhan yang terjadi di wilayah hukum Polda Banten di antaranya kasus pembunuhan satu keluarga di Waringin Kurung, Kabupaten Serang. Kasus pembunuhan beserta pemerkosaan gadis Baduy di Lebak dan kasus pembunuhan untuk pesugihan di Lebak. (Rey/Al)

administrator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *