SERANG, PILARBANTEN.COM – Dalam beberapa tahun terakhir, arus budaya global—mulai dari TikTok, K-Pop, K-Drama hingga tren kecantikan K-Beauty—masuk dengan sangat kuat ke kehidupan generasi muda Indonesia. Di sisi lain, pemerintah terus mendorong penguatan identitas nasional melalui kurikulum Pancasila dan gerakan literasi budaya. Pertemuan dua arus ini menciptakan cara baru dalam memahami “menjadi Indonesia” di era digital.
Survei Kominfo 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 72% pengguna internet muda menjadikan konten global sebagai rujukan gaya hidup. Generasi muda bukan hanya konsumen, tetapi juga produsen budaya digital, sehingga identitas mereka terbentuk oleh campuran nilai lokal dan global sekaligus.
Para ahli menjelaskan bahwa identitas nasional terdiri dari nilai dasar negara, warisan budaya, dan rasa kebersamaan. UNESCO juga menegaskan bahwa identitas bersifat dinamis. Karena itu, perubahan gaya hidup anak muda bukan berarti hilangnya identitas nasional, melainkan perubahan cara mereka mengekspresikannya. Hal ini terlihat dari remix musik daerah di TikTok, batik dalam gaya streetwear, hingga cerita rakyat yang dihidupkan kembali oleh kreator digital.
TikTok menjadi ruang paling nyata dalam pembentukan identitas generasi Z. Tren seperti “K-pose Graduation” menunjukkan bagaimana simbol global diadaptasi dalam konteks lokal. Identitas Indonesia tetap hadir melalui bahasa, humor, dan musik campuran khas lokal. Riset UGM 2024 menyebut fenomena ini sebagai identitas “hibrid”—global dalam referensi, lokal dalam ekspresi.
Selain itu, budaya fandom seperti komunitas K-Pop di Indonesia juga membentuk solidaritas baru. Banyak fandom terlibat dalam kegiatan sosial dan penggalangan donasi. ASEAN Youth Report 2024 bahkan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan partisipasi fandom terbesar di Asia Tenggara, menunjukkan bahwa globalisasi justru membuka ruang baru bagi generasi muda untuk berkontribusi.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Kominfo mencatat meningkatnya standar kecantikan tidak realistis, budaya konsumtif, dan menurunnya minat terhadap sejarah lokal. Karena itu, penguatan identitas nasional perlu dilakukan dengan pendekatan yang relevan: visual, kreatif, dan sesuai dengan cara anak muda berinteraksi di dunia digital.
Pada akhirnya, identitas Indonesia memang sedang bertransformasi—dan itu wajar. Sejak dulu bangsa ini selalu dibentuk oleh perjumpaan budaya. Bedanya, kini prosesnya lebih cepat. Pertanyaannya bukan lagi apakah budaya asing mengancam, tetapi bagaimana kita memaknai ke-Indonesia-an di tengah budaya global.
Selama nilai Pancasila, solidaritas, dan rasa kebersamaan tetap terjaga, identitas nasional tidak akan hilang. Justru, di era TikTok dan K-Culture, kita melihat bahwa budaya lokal menemukan cara baru untuk hidup dan berkembang. Itulah kekuatan Indonesia hari ini: tetap menjadi diri sendiri, meski dunia hadir setiap detik di layar ponsel.

Nama : Aldi Ubaidilah
NIM : 251090200576
Fakultas : Ilmu Hukum Universitas Pamulang PDSKU Kota Serang








