Dolbon Masih Jadi PR Pemkot Serang

oleh -6 Dilihat
oleh

Serang, – Masalah Buang Air Besar (BAB) sembarangan di Kota Serang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan sampai saat ini.

Tercatat hingga sampai tahun ini, masih ada sebanyak 20.000 Kepala Keluarga (KK) di Kota Serang yang masih melakukan kebiasaan Dolbon.

Walikota Serang Syafruddin seusai melakukan deklarasi Kecamatan Cipocok Jaya bebas Dolbon, Senin (31/1/2022) mengatakan, angka itu sudah terjadi penurunan dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya yang memang jumlahnya mencapai 30.000 KK pada tahun 2019.

“Ini merupakan upaya kita bersama, baik dari Pemkot, Pemprov dan pemerintah pusat yang membantu mengentaskan persoalan ini di masyarakat, khususnya di Kota Serang,” ujarnya.

Akan tetapi, karena memang jumlahnya cukup banyak, sehingga tidak bisa dalam jangka waktu satu,dua tahun persoalan Dolbon ini diselesaikan. Butuh kerjasama semua pihak untuk mengentaskan masalah ini.

“Saya targetkan 2024 Kota Serang sudah bebas dari Dolbon,” katanya.

Diakui Syafruddin, persoalan Dolbon di Kota Serang memang menjadi pekerjaan rumah yang besar, pasalnya jumlahnya cukup banyak, hampir 5 persen dari jumlah warga Kota Serang sebanyak 700.000 itu Dolbon.

“Itu awalnya tersebar di beberapa titik. Namun berkat kerja semua pihak, akhirnya di Kecamatan Cipocok Jaya ini 100 persen warganya sudah bebas dari Dolbon, mereka sudah mempunyai Jamban keluarga masing-masing,” ujarnya.

Syafruddin berharap, ke depan banyak Kecamatan lainnya yang juga mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh Kecamatan Cipocok Jaya ini, sehingga target itu benar-benar bisa tercapai.

“Yang terbanyak itu sampai sekarang masih di Kecamatan Kasemen, kurang lebih 10 ribu KK masih Dolbon,” tuturnya.

Sedangkan untuk di Kecamatan Cipocok Jaya sendiri, lanjutnya, sebanyak 1.327 KK yang sudah terselamatkan dari Dolbon dan sudah mempunyai Jamban keluarga hasil dari kerja bersama.

“Untuk itu saya sangat mengapresiasi berbagai kegiatan yang sudah dilakukan oleh teman-teman dari Sanutasi Total Berbasis Masyarakat (STBM),” tutupnya.(loet)