Pilar Banten

Kaum Muda Rentan Terpapar Paham Radikalisme

Kaum Muda Rentan Terpapar Paham Radikalisme

Serang – Paham radikalisme kini menjadi musuh bersama. Jika tidak melakukan perlawanan, keutuhan NKRI akan terancam pecah. Para pelaku terpapar paham radikalisme didominasi kaum muda. Sebab para kaum muda lebih mudah disusupi paham-paham radikalisme di banding orang tua.
Berdasarkan pemetaann yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), 52 persen para pelaku teror yang terpapar paham radikalisme berada di usia di bawah 30 tahun atau dalam kategori pemuda, bahkan diantaranya ada yang masih pelajar.
“Di Jawa Tengah dan Timur, banyak kelompok-kelompok radikalisme yang usianya masih pelajar. Mereka dengan otodidak belajar merakit bom, mencari bahan-bahannya sendiri dari Media Sosial (Medsos),” kata Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir, di Pendopo Gubernur Banten, Senin (28/10/2019).
Menurut Tomsi, dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi tidak hanya berdampak positif dalam perkembangan masyarakat, namun juga jika tidak digunakan dengan bijak akan berdampak sangat berbahaya bagi tatanan kehidupan masyarakat. Pengakses internet di negara kita itu sekitar 171,18 juta yang didominasi kaum muda atau sekitar 64%. “Oleh karena itu saya berharap para kaum muda juga berperan aktif dalam menangkal berkembangnya isu-isu terorisme,” katanya.
Selain melalui Medsos, paham-paham radikalisme juga menyusupi kaum muda dikalangan mahasiswa, modusnya bisa berupa kajian-kajian atau peminjaman buku, memfasilitasi kosan dan WiFi gratis dengan persyaratan tertentu.
“Metode ini sudah marak terjadi. Oleh karena itu, saya berharap para kaum muda agar mampu memfilter paham-paham yang masuk di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Hal serupa juga dikatakan Gubernur Banten Wahidin Halim (WH). Menurut WH kaum muda sudah seharusnya melek teknologi, karena tantangan ke depan bangsa ini akan semakin berat jika kaum mudanya tidak menguasai teknologi. “Oleh karena itu saya mendukung penuh gerakan yang dicanangkan Presiden yakni melek teknologi, karena kita akan memasuki era 4.0,” katanya.
Akan tetapi, jangan sampai perkembangan teknologi yang baik ini dijadikan sebagai wadah untuk mempersiapkan aksi-aksi teror yang dapat mengancam kesatuan dan persatuan keutuhan bangsa. Kita patut berbangga hidup di tengah-tengah perbedaan dengan harmonis. “Keharmonisan ini jangan sampai dirusak oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan agama,” ujarnya. (Rey/Al).

administrator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *