Pilar Banten
Kasus Stanting Jadi Perhatian Khusus Dinkes Banten

Kasus Stanting Jadi Perhatian Khusus Dinkes Banten

Serang, – Memasuki tahun ketiga Pandemi Covid-19, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten merilis beberapa daerah di Banten mengalami kenaikan jumlah kasus stanting.

Kenaikan itu berdasarkan hasil Studi yang dilakukan oleh Status Gizi Indonesia (SSGI) nasional dengan berbagai barometer pengukuran yang menghasilkan ada beberapa daerah yang mengalami kenaikan ada juga yang mengalami penurunan.

“Hal itu tidak terlepas dari dampak Covid-19 yang melanda semua daerah sejak dua tahun belakangan,” kata Kepala Dinkes Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti, Selasa (18/1/2022).

Dikatakan Ati, dampak dari kasus stanting yang tinggi ini akan berakibat fatal ke segala sektor jika tidak segera ditangani, baik itu dari sisi ekonomi, ketahanan pangan, kesehatan dan sebagainya.

“Kita sudah melakukan identifikasi, kemudian memberikan makanan tambahan bagi ibu hamil dan juga balita, baik pangan lokal, PMT biskuit tablet tambah darah bagi remaja dan ibu hamil, sosilisasi edukasi tentang ASI eksklusif.

“Serta upaya intervensi pengobatan cacing, diare, sanitasi, pengadaan air bersih maupun jamban keluarga,” jelasnya.

Adapun untuk jumlah daerah yang mengalami peningkatan kasus stanting di Provinsi Banten diantaranya Kabupaten Pandeglang yang sebelumnya 33 persen menjadi 37 persen.

Kemudian Kabupaten Tangerang tahun lalu diangka 18 persen menjadi 20 persen, serta Kota Tangerang Selatan yang semula 16 persen naik di angka 19,9 persen.

“Sementara daerah Kota Tangerang turun, Kota Serang, Cilegon dan Kabupaten Serang juga turun. Kota Serang pada tahun 2021 angka stantingnya dari 28 persen menjadi 23 persen,” ucapnya.

Sedangkan untuk Provinsi Banten sendiri, tambah Ati, secara keseluruhan tingkat angka stanting nya mencapai 24,5 persen. Melihat angka dan juga tran perkembangan di lapangan, pihaknya yakin pada tahun 2024 nanti jumlah angka stanting di Provinsi Banten bisa ditekan secara maksimal.

“Sesuai dengan arahan pak presiden sebesar 14 persen pada tahun 2024,” tutupnya. (loet)

Tinggalkan Balasan