Pilar Banten

Akademisi dan Pemuda Diharapkan Ikut Kontestasi Pilkada

Akademisi dan Pemuda Diharapkan Ikut Kontestasi Pilkada

Serang – Banten menjadi salah satu daerah penyumbang tertinggi jumlah calon tunggal yang maju dalam kontestasi Pilkada. Pada Pilkada 2017 kemarin ada 3 daerah dengan calon tunggal yakni Kabupaten Tangerang, Lebak dan Kota Tangerang. Pilkada sebelumnya Kabupaten Serang hampir juga bernasib sama, hingga mendekati penutupan pendaftaran, baru ada calon kedua yang mendaftar ke KPU.
Ini merupakan fenomena yang memprihatinkan. Partai Politik (Parpol) sebagai wadah regenerasi para calon pemimpin disinyalir belum maksimal dalam menyiapkan para calon pemimpin masa depan, sehingga kemudian banyak Parpol yang mengekor ke petahana atau calon yang dianggap kuat baik secara finansial maupun elektabilitas.
“Jumlah perolehan kursi di dewan tidak bisa dijadikan barometer,” kata pengamat politik Universitas Sultan Agung Tirtayasa, Leo Agustino, Rabu (11/9/2019).
Di Kabupaten Serang misalnya, pada Pilkada tahun 2015 lalu, semua partai sebagian besar merapat ke satu pasang calon, Tatu – Panji. Koalisi gemuk itu akhirnya mampu mengantarkan jagoannya menuju kursi A1 dengan mulus.
Hal itu juga bisa saja kembali terjadi di Pilkada 2020 nanti. Meskipun tidak calon tunggal, namun koalisi gemuk itu pasti ada jika hanya ada dua calon.
“Sekarang tinggal bagaimana KPU membuat regulasi yang pas agar tidak terjadi lagi calon tunggal atau koalisi gemuk. Jika hal ini terus terjadi, maka masyarakat yang jelas akan dirugikan,” ujarnya.
Idealnya dalam setiap kontestasi Pilkada itu minimal ada tiga pasangan calon. Sehingga masyarakat bisa leluasa memilih kriteria calon pemimpinnya. “Ini juga tentu bisa menekan jumlah angka Golput yang masih tinggi”.
Politik memang dinamis. Oleh karenanya rumus hitungan matematika saja tidak bisa dijadikan acuan, apalagi acuannya skema perpolitikan nasional. Di daerah yang homogen, dikotomi antara 01 dengan 02 saat Pilpres kemarin mungkin saja masih terjadi. Namun ditataran elit dan masyarakat yang sudah ‘melek’, hal itu sudah tidak berlaku lagi, karena kontestasi Pilpres kemarin sudah selesai di gerbong kereta.
“Bahkan beberapa partai yang ada di 02, sudah mulai memberi sinyal akan bergabung ke 01, termasuk partai Gerindra itu sendiri. Hanya beberapa partai saja kemungkinan yang masih bertahan untuk tetap berada di luar pemerintahan. Jadi sudah sangat cair,” ujarnya.
Selain dari pada itu, Leo menginginkan kontestasi Pilkada di beberapa daerah di Banten ini diikuti oleh para akademisi dan kaum muda yang revolusioner. Sebab, jika berkaca pada beberapa daerah yang dipimpin oleh akademisi dan pemuda yang revolusioner daerahnya mengalami kemajuan yang luar biasa, contoh kecilnya Kabupaten Bantaeng di Sulawesi Selatan dibawah kepemimpinan Nurdin Abdullah. Sementara di Surabaya, dibawah kepemimpinan Risma juga mengalami kemajuan yang luar biasa, “Apalagi sekarang sudah memasuki era digital 4.0 dan 5.0. Ini menjadi tantangan besar bagi para calon pemimpin. Seorang pemimpin harus menguasai bidang tersebut,” katanya.
Hal serupa juga dikatakan Haris, akademisi Untirta ini mengatakan untuk daerah yang masih homogen seperti Kabupaten Serang dan Pandeglang, faktor Pilpres dan kekuatan petahana masih berpengaruh besar. Di Pandeglang contohnya, kekuatan Irna selaku petahana masih besar, meskipun ada Parpol yang secara langsung akan menantang petahana. “Di dewan PPP memang hanya mendapat 5 kursi, tapi Irna mempunyai finansial yang besar untuk melanjutkan dua periode,” katanya.
Potensi hal serupa juga bisa terjadi di Kabupaten Serang, meskipun sekarang sudah ada beberapa nama yang bermunculan, namun endingnya nanti belum bisa diprediksi.
“Mengingat klan Tatu sangat kuat di Kabupaten Serang. Hampir sama seperti Irna di Pandeglang,” katanya.
Yang menarik untuk diamati itu Pilkada di Tangsel dan Kota Cilegon. Karena selain di dua kota ini tidak ada petahana yang kembali maju, karakteristik warganya yang heterogen juga berpengaruh. Semua calon yang maju mempunyai peluang yang sama.
“Masyarakat Kota atau Urban biasanya lebih selektif dalam memilih. Bukan karena seberapa besar ‘serangan fajar’ yang mereka terima, tetapi masyarakat kota lebih melihat seberapa bagus dan menguntungkannya gagasan yang dipaparkan oleh masing-masing pasangan calon,” katanya.
Sampai saat ini, ada sekitar 23 nama yang gaungnya akan maju di Pilkada Tangsel. Ini menarik. Apalagi Tangsel sebagai daerah penyangga ibukota yang sebagian besar PAD nya dari jasa. Banyaknya nama bermunculan itu bukti bahwa masyarakat Urban begitu antusian dalam proses politik.
“Di Cilegon juga seperti itu. Ada perwakilan dari pemuda yang digadang akan maju, dari akademisi juga ada. Mudah-mudahan benar-benar maju,” katanya.
Sementara untuk di Kabupaten Serang diprediksi akan diikuti hanya dua pasang calon, begitu pula di Kabupaten Pandeglang. (Rey/Al)

administrator

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *