Thursday, 20 September 2018 14:21

Menteria Agama: Tidak Ada Larangan Azan Menggunakan Pengeras Suara

Rate this item
(0 votes)
Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin

Serang - Kementerian Agama Republik Indonesia menyatakan tidak ada aturan bahkan larangan pengumandangan azan menggunakan pengeras suara.

"Bagaimana mungkin azan itu dilarang? Yang ada adalah tuntunan penggunaan pengeras suara di Masjid, Musala dan di rumah-rumah yang tuntunan itu dibuat jauh 40 tahun yang lalu pada 1978," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin usai menghadiri acara sapa penyuluh agama provinsi Banten di Makorem 064 Maulana Yusuf, Kota Serang, Kamis (20/9/2019).

Aturan itu tertuang dalam Instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor: Kep/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Musala. Pada aturan tersebut tertulis tentang keuntungan dan kerugian menggunakan pengeras suara di masjid, langgar, dan musala.

Salah satu keuntungan menggunakan pengeras suara seperti tertuang dalam instruksi tersebut adalah sasaran penyampaian dakwah dapat lebih luas. Namun ada pula kerugian dari penggunaan pengeras suara, yakni mengganggu orang yang sedang beristirahat ataupun sedang menyelenggarakan upacara keagamaan.

Pada aturan tersebut juga ditulis tentang keharusan menghormati tetangga. Berikut ini kutipannya:

Dari beberapa ayat Alquran terutama tentang kewajiban menghormati jiran/tetangga, demikian juga dari banyak hadits Nabi Muhammad SAW menunjukkan adanya batasan-batasan dalam hal keluarnya suara yang dapat menimbulkan gangguan walaupun yang disuarakan adalah ayat suci, doa atau panggilan kebaikan sebagaimana antara lain tercantum dalam dalil-dalil yang dilampirkan pada keputusan Lokakarya P2A tentang Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

Kemudian ada syarat-syarat dalam penggunaan pengeras suara di masjid, langgar, dan musala. Namun memang tak ada aturan tegas mengenai volume suara.

Untuk suara azan, dalam aturan itu memang disebut harus ditinggikan. Tetapi tak diatur soal batasan meninggikan suara tersebut. Begini kutipannya:

Dari tuntunan Nabi, suara azan sebagai tanda masuknya salat memang harus ditinggikan. Dan karena itu penggunaan pengeras suara untuknya adalah tidak dapat diperdebatkan. Yang perlu diperhatikan adalah agar suara muazin tidak sumbang dan sebaiknya enak, merdu, dan syahdu.(anwar/teguh)

Read 141 times