Friday, 07 September 2018 17:56

Rupiah Melemah, Harga Kedelai Naik, Pengrajin Rampingkan Ukuran Tempe

Rate this item
(0 votes)
Udin salah satu pengrajin tempe di Kota Serang Udin salah satu pengrajin tempe di Kota Serang

Serang - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika tidak hanya berdampak terhadap perekonomian makro. Namun berdampak pula pada usaha mikro yang mengandalkan bahan baku impor.

Salah satu bahan pokok makanan lokal khas Indonesia seperti tempe, tahu dan oncom ternyata masih mengandalkan bahan baku kedelai impor. 

Oleh karenanya, beberapa pengrajin mulai merampingkan produksi ukuran tempe, tahu dan oncom. Hal ini pun dirasakan oleh Udin salah satu pengrajin tempe di Kota Serang.

"Kita kesulitan kalau harus menaikkan harga, harus kumpul semua (para pengrajin, red) untuk menyepakati harga kalau naik," katanya kepada wartawan di tempat produksi, Kampung Domba, Lopang, Kota Serang, Jumat (7/9/2018).

Saat ini, dalam satu hari, ia hanya mampu memproduksi tempe dengan menggunakan 100 kg per hari kedelai. Sebelummya, pihaknya mampu mengolah hingga 1,5 ton kedelai produksi tempe.

Menurutnya, kenaikan harga kedelai sebetulnya sudah mulai dirasakan sejak bulan ramadan, namun hingga sekarang, lanjut Udin, pihaknya belum pernah menaikan harga yang tempe.

"Sekarang harga kedelai itu mencapai Rp.7.500 per kilo, tapi belum saya naikkan harganya (tempe-red) untungnya jadi tipis. Buat mengakalinya, saya perkecil ukuran," tuturnya.

Ia mengatakan, kenaikan harga kedelai saat ini lumayan terasa dampaknya, walau menurutnya masih dapat dicari solusi, akan tetapi jadi berdampak banyak terhadap keuntungan para pengrajin.

"Dulu harganya masih Rp.6.300, sekarang jadi Rp.7.300 sampai Rp.7.500, akhirnya kami akali dengan cara mengurangi produksi, awalnya 500 kg, jadi 300 kg," katanya.

Ia berharap, pemerintah dapat segera mencari solusinya, terutama terkait harga kedelai yang terus menerus mengalami kenaikan. Ia menyatakan, kedelai lokal sebenarnya tidak kalah kualitasnya dengan kedelai impor, namun keterbatasan kuantitas yang akhirnya terpaksa harus impor ke Amerika.

"Ya bagaimana kami mau pakai kedelai lokal, kalau saat panen kita bisa pakai. Cuma tidak setiap saat ada, kata Dinas Pertanian Banten waktu itu juga, kita kekurangan kedelai lokal, makanya impor," terangnya.(anwar/teguh)

Read 93 times