Friday, 07 August 2015 00:47

Seni Ubrug, Teater Rakyat Banten

Rate this item
(0 votes)

Serang—Mang Kobet atau Mr Kobet semakin sepuh. Di usianya yang sudah sangat matang (55 tahun), ia belum juga menemukan klimaks dari perjalanannya berkesenian. Semakin kehilangan penonton bahkan jauh ditinggalkan. “Inginnya membuat regenerasi; namun melihat fenomena kecenderungan ubrug dan kebutuhan pemain inti, di usia setua ini saya belum bisa mewujudkan itu,”ujar Kobet.

Serang—Mang Kobet atau Mr Kobet semakin sepuh. Di usianya yang sudah sangat matang (55 tahun), ia belum juga menemukan klimaks dari perjalanannya berkesenian. Semakin kehilangan penonton bahkan jauh ditinggalkan. “Inginnya membuat regenerasi; namun melihat fenomena kecenderungan ubrug dan kebutuhan pemain inti, di usia setua ini saya belum bisa mewujudkan itu,”ujar Kobet.

Ia enggan mengomentari nasib seni tradisi ubrug ke depan, jalan di tempat atau mati sama sekali tidak lagi begitu penting. Baginya berkarya hingga akhir hayatnya adalah pengabdian pada hobi yang menjadi kekayaan tradisi Banten. “Harapannya memang Ubrug bisa kembali jaya seperti tahun 80-an. Meski di panggung-panggung rakyat saat menyelenggarakan hajat,”katanya.

Bagi warga Banten wilayah Selatan, tepatnya Kampung Sidamukti, Desa Sidamukti, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, Banten perjalannya hingga sisa akhir hayatnya adalah semangat mempertahankan seni teater rakyat khas Banten. Meski terseok-seok, Mang Kobet dengan grup Ubrug Tiga Saderek tetap melakukan penetrasi agar masyarakat masih menerima seni usang tersebut.

Ubrug dikenal sebagai kesenian tradisional rakyat yang semakin hari semakin dilupakan oleh penggemarnya. Istilah Ubrug berasal dari bahasa Sunda yani ‘sagebrugan’ yang berarti campur aduk dalam satu lokasi. Ini memang menggambarkan unsur-unsur kesenian yang memasyarakat. Pertunjukan ubrug sederhana dan bisa dilakukan di mana saja. Bahkan tak jarang seniman ubrug bisa pentas tanpa dekorasi dan panggung. Mereka bisa pentas di tanah lapang dengan arena pertunjukan berbentuk tapal kuda, penonton mengelilingi tempat permainan.

Sehingga penonton bisa menyaksikannya dari berbagi sudut. Kedekatan antara pemain dengan penonton ini memungkinkan pertunjukkan menjadi semakin menarik dan terlihat memasyarakat. “Ada yang bertahan dengan kelompoknya karena menjadikan mata pencaharian buat pelaku Ubrug; ada juga yang sambilan setelah usai kerja,”kata Mang.

Kobet yang mengaku kelompok Ubrug yang dipimpinannya bukan sebagai mata pencaharian utama. “Tetapi kami harus punya target. Ya sepi-sepinya dalam sebulan kami harus punya satu pementasan,”ujar pria berusia senja yang memiliki lima anak ini.

Ia menuturkan, dirinya mendirikan ubrug sudah puluhan tahun, yang dirinya lupa tahun itu. Selama ini, ia mengandalkan panggilan dari pemilik hajat baik pesta perkawinan, maupun khitanan. “Ya beberapa kali pemerintah atau kegiatan partai. Tapi itu pun bisa dihitung,”katanya.

Dalam laku di panggung pentas, group yang dipimpin oleh Mr Kobet ini, menampilkan sinden dan penarinya dengan pakaian agak sedikit “menor” dan gerakan yang sedikit menggoda penonton. Uniknya, menurut Kobet, group ini ternyata terdiri dari beberapa orang yang punya profesi lain. “Personil kami, kalau sedang tidak ada job atau mentas, mereka adalah petani biasa, ada juga yang berprofesi nelayan bahkan ada pula yang berprofesi sebagai tukang becak,” ujarnya seraya menyatakan, kesenian rakyat ini sudah ada di Banten sebelum tahun 1918. Hingga kini belum ada catatan resmi tentang pencipta dan tahun awal kemunculan kesenian ubrug di Banten.

Kesenian ini, kata dia, biasanya diselingi oleh dialog dan akting dari para pemainnya yang kadang membuat penonton tertawa, kesenian ini diiringi oleh seperangkat alat musik seperti gendang, kulanter, kempul, gong angkeb, rebab, kenong, kecrek, dan ketuk. “Sedangkan untuk lakon-lakon yang dipertunjukkan dalam ubrug juga bisa menjadi saran penyampai pesan-pesan bijak sesuai dengan kejadian yang ada di masyarakat,”tuturnya.(Budi Wahyu Iskandar)

 
Read 330 times Last modified on Thursday, 03 September 2015 10:39